Showing posts with label Tradisi. Show all posts
Showing posts with label Tradisi. Show all posts

Saturday, March 24, 2012

Pembakaran Puluhan Raksasa Ninot di Festival Las Fallas

Setiap tahun di kota Valencia, Spanyol merayakan festival kuno "Las Fallas" fiesta, kebisingan selama seminggu yang penuh dengan kembang api dan prosesi untuk menghormati Santo Yosef, dan sebagai klimaksnya ada momen pembakaran angka papier mache berukuran besar yang ditampilkan di sepanjang jalan-jalan kota.
Las Fallas dirayakan untuk memperingati Hari St Joseph, Saint Pelindung Carpenters. Las Fallas di Valencia secara harfiah berarti "api" . Fokus dari fiesta adalah penciptaan dan penghancuran Ninot (boneka biasanya berukuran raksasa), yang dibuat dari kardus besar, kayu, kertas mache dan patung-patung plester. boneka ninot terlihat sangat hidup dan biasanya menggambarkan perbuatan bejat(mesum), adegan satir dan kejadian terkini. Tema populer biasanya ninots dibuat seperti figur politisi korup dan selebriti Spanyol. pembuatan Ninots sangat intensif, tidak jarang menghabiskan dana hingga US $ 75.000, yang dibuat oleh organisasi lingkungan dan membutuhkan hampir sepanjang tahun untuk membuat Boneka raksasa ninot.
Banyak Ninot berukuran setinggi gedung beberapa lantai diarak di hampir 350 persimpangan dengan bantuan Crane pada hari La Planta (terbit)
Ninot tetap ditempatnya sampai tanggal 19 Maret, hari yang dikenal sebagai La Crema (pembakaran). Dimulai pada awal malam, pria muda dengan memotong sumbu lubang di patung-patung dan barang-barang mereka dengan kembang api.

Orang-orang mulai riuh, lampu jalan dimatikan, dan semua boneka ninot dibakar tepat pada 12:00 tengah malam. Selama bertahun-tahun, bomberos lokal (pemadam kebakaran) telah menemukan cara unik untuk melindungi bangunan kota yang tanpa sengaja terbakar oleh ninots: seperti menutupi etalase dengan terpal tahan api.
Setiap tahun, ada salah satu ninot yang terhindar dari kehancuran karena suara rakyat. Ninot ini disebut indultat ninot (boneka yang diampuni) dan dipamerkan di Museum lokal Ninot bersama dengan favorit lainnya dari tahun terakhir.








Foto: Reuters, Getty Images, AFP, AP Photos

Sunday, March 11, 2012

Sejarah Senjata Tradisional Ampuh dari Sulawesi Selatan : Badik

EWAKO, adalah sebuah kata yang akrab di telinga masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya masyarakat Bugis-Makassar....
Menurut Kamus Populer Inggris-Makassar Indonesia-Makassar, kata rewako merupakan terjemahan dari kata ‘berani’ dalam bahasa Indonesia, dan ‘brave’ dalam bahasa Inggris. Keberanian masyarakat Bugis-Makassar tergambar dalam semboyan pelaut Bugis-Makassar, yang juga menjadi petuah (pappasang) Bapak Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo:
Takunjunga bangunturu’ Takugunciri gulingku Kualleanna Tallanga Natoalia. 
Artinya: Tidak begitu saja aku ikut angin buritan. Aku akan putar kemudiku. Lebih baik aku tenggelam daripada balik haluan.
Mungkin kata-kata EWAKO ini memang cocok dengan senjata khas Sulawesi Selatan yang akan kita bahas yaitu "BADIK"

Badik atau badek adalah pisau dengan bentuk khas yang dikembangkan oleh masyarakat Bugis dan Makassar. Badik bersisi tajam tunggal atau ganda. Seperti keris, bentuknya asimetris dan bilahnya kerap kali dihiasi dengan pamor. Namun demikian, berbeda dari keris, badik tidak pernah memiliki ganja (penyangga bilah).
Badik ini merupakan senjata khas tradisonal Makassar, Bugis dan Mandar yang berada dikepulauan Sulawesi. Ukurannya yang pendek dan mudah dibawa kemana mana, tapi jangan salah lho kalau badik ini sudah keluar dari sarungnya pantang untuk dimasukkan sebelum meminum darah.

Maka biasanya senjata adat yang bernama Badik ini dahulu sering dipakai oleh kalangan petani untuk melindungi dirinya dari binatang melata dan atau membunuh hewan hutan yang mengganggu tanamannya. Selain itu karena orang bugis gemar merantau maka penyematan badik dipinggangnya membuat dia merasa terlindungi.

Badik memiliki bentuk dan sebutan yang berbeda-beda tergantung dari daerah mana ia berasal. Di Makassar badik dikenal dengan nama badik sari yang memiliki kale (bilah) yang pipih, batang (perut) buncit dan tajam serta cappa dan banong (sarung badik). Sementara itu badik Bugis disebut kawali, seperti kawali raja (Bone) dan kawali rangkong (Luwu). Kawali Bone terdiri dari bessi (bilah) yang pipih, bagian ujung agak melebar serta runcing. Sedangkan kawali Luwu terdiri dari bessi yang pipih dan berbentuk lurus. Kawali memiliki bagian bagian: Pangulu (ulu), bessi (bilah) dan wanoa (sarung)

Umumnya badik digunakan untuk membela diri dalam mempertahankan harga diri seseorang atau keluarga. Hal ini didasarkan pada budaya siri' dengan makna untuk mempertahankan martabat suatu keluarga. Konsep siri' ini sudah menyatu dalam tingkah laku, sistem sosial budaya dan cara berpikir masyarakat Bugis, Makassar dan Mandar di Sulawesi Selatan. Selain dari pada itu ada pula badik yang berfungsi sebagai benda pusaka, seperti badik saroso yang memiliki nilai sejarah. Ada pula sebagian orang yang meyakini bahwa badik berguna sebagai azimat yang berpengaruh pada nilai baik dan buruk seseorang.
Macam-macam Badik


1. Badik Raja (gecong raja, bontoala)
badik yang asalnya dari daerah kajuara kabupaten bone , dalam pembuatan badik ini,, orang2 disekitar kajuara sana masih percaya jika badik raja dibuat oleh makhluk halus, ketika malam, terdengar suara palu bertalu-talu dalam lanraseng gaib sampai paginya masyarakat sana menemukan jadilah sebuah badik raja,, badik ini bilahnya aga” besar ukurannya 20-25 cm, menurut bang ray divo, Ciri-ciri badik raja hampir mirip dengan badik lampobattang, bentuk bilahnya agak membungkuk, dari hulu agak kecil kemudian melebar kemudian meruncing. Pada umumnya mempunyai pamor timpalaja atau mallasoancale di dekat hulunya. Bahan besi dan bajanya berkualitas tinggi serta mengandung meteorit yang menonjol dipermukaan, kalau kecil disebut uleng-puleng kalau besar disebut batu-lappa dan kalau menyebar di seluruh permukaan seperti pasir disebut bunga pejje atau busa-uwae. Badik raja di masa lalu hanya digunakan oleh arung atau dikalangan bangsawan-bangsawan dikerajaan Bone.

2. Badik Lagecong
Badik lagecong,, Badik bugis satu ini dikenal sebagai badik perang, banyak orang mencarinya karna sangat begitu terkenal dengan mosonya (racunnya), banyak orang percaya bahwa semua alat perang akan tunduk pada badik gecong tersebut,,
ada dua versi , yang pertama ,Gecong di ambil nama dari nama sang pandre (empu) yang bernama la gecong, yang kedua diambil dari bahasa bugis gecong atau geco”, yang bisa diartikan sekali geco” (sentuh) langsung mati,,
sampai saat ini banyak yang percaya kalau gecong yang asli adalah gecong yang terbuat dari daun nipah serta terapung di air dan melawan arus,, wallahu alam,, panjang gecong biasanya sejengkalan orang dewasa, pamor lonjo,, bentuknya lebih pipih,tipis tapi kuat.

3. Badik Luwu
Badik luwu,, badik luwu yang berasal dari kabupaten luwu, bentuknya agak sedikit membungkuk, mabbukku tedong (bungkuk kerbau), bilahnya lurus dan meruncing kedepan,, badik bugis kadang diberikan pamor yang sangat indah, hingga kadang menjadi buruan para kolektor ..di bajanya terdapat rakkapeng atau sepuhan pada baja yang konon disepuh dengan bibir dan “maaf” alat kelamin gadis perawan sehingga konon tidak ada orang yang kebal dengan badik luwu ini,


4. Badik Lompo Battang (badik siperut besar/jantung pisang)
Badik lompo battang atau sari,, badik ini berasal dari Makassar, bentuknya seperti jantung pisang, ada jg yang bilang seperti orang hamil, makanya orang menyebutnya lompo battang (perut besar), konon katanya jika ada orang terkena badik ini, maka dia tidak akan bertahan dalam waktu 24 jam

sumber : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=13091532

Saturday, February 18, 2012

13 Produk Kuno Asli Indonesia, Yang Masih Diproduksi Sampai Kini

Produk - produk ini adalah produk asli buatan dalam negeri, mereka sudah ada bahkan sejak Negara ini belum lahir (merdeka), melalui berbagai zaman, revolusi dan perubahan radikal bangsa ini, Produk - produk ini masih terus bertahan untuk tetap eksis di pasaran..

1. Permen Davos [1931]
SOEYATI Soekirman tak pernah luput membawa Davos. Nenek 68 tahun warga Banyumas ini sudah puluhan tahun menggemari permen itu. ”Orang-orang tua memang konsumen loyal kami,” kata Nicodemus Hardi, Managing Director Operasional PT Slamet Langgeng, produsen permen Davos. Permen ini dirintis oleh Siem Kie Djian pada 28 Desember 1931. Lokasi pabriknya tetap sama hingga kini: Jalan Ahmad Yani 67, Kelurahan Kandang Gampang, Purbalingga, Jawa Tengah. Perusahaan dilanjutkan anaknya, Siem Tjong An. Enam tahun berikutnya, bisnis diteruskan lagi ke anak dan menantu Tjong An: Toni Siswanto Hardi dan Corrie Simadibrata. Kini perusahaan tersebut dipimpin oleh Budi Handojo Hardi, generasi ketiga pendiri bisnis ini.

2. Wajik Week [1939]

SEMULA, pada 1939, Nyonya Ong Kiem Lien hanya memasak kue untuk dijual ke tetangga. Ada wajik, onde-onde, keripik tempe, rempeyek kacang, dan jadah (kue dari ketan dan kelapa parut). Usaha ini dilanjutkan oleh anaknya, Ong Gwek Nio, yang kemudian hanya berkonsentrasi pada wajik.


3. Siroop Tjap Buah Tjampolay [1936]
RASANJA sedap, baoenja wangi. Itulah yang tertera dalam kemasan sirup Tjap Buah Tjampolay. Minuman legendaris asal Cirebon ini pertama kali dibuat oleh Tan Tjek Tjiu pada 11 Juli 1936. Hingga kini kemasan dan labelnya tak berubah.

4. Sarang Sari [1934]

Botolnya hijau, mirip botol bir. Tulisan dalam kemasannya tak berubah sejak 75 tahun lalu: Limonadestroop. Sarang Sari, begitulah nama sirup berbotol serupa bir itu, bertahan di tengah gempuran minuman berkarbonat. Cikal bakal sirup ini dimulai dari De Wed Bijlsma, pengusaha asal Groningen, Belanda, yang mendirikan NV Conservenbedrijf de Friesche Boerin pada 1934.


5. Ting-ting Jahe [1935]

NJOO Tjhay Kwee menunggang sepeda pancal mengitari Pasuruan. Kala itu, tahun 1935, Njoo sedang merintis usaha kembang gula Sin A di Pasuruan, Jawa Timur. Kisah ini dituturkan Dyah Purwaningsih, General Manager PT Sindu Permata, perusahaan yang memproduksi ting-ting jahe. Ayu adalah cucu Njoo alias generasi ketiga pemilik perusahaan ini.

6. Tahu Yun Yi [1940]

DALAM bahasa Mandarin, yun yi artinya bermanfaat atau beruntung. Perusahaan tahu yang didirikan pada 1940 itu memang beruntung masih eksis hingga kini. Bisnis tahu Yun Yi dirintis oleh Liauw Hon Tjan di Jalan Jenderal Sudirman Belakang 231, Bandung. Pabrik tahu ini tak pernah berpindah hingga sekarang.

7. Teh Cap Botol [1940]

RIBUAN botol plastik hijau itu bergerak dalam irama teratur di atas jalur roda berjalan. Lalu, plop, plop, plop: letupan mesin memasangkan plastik kemasan ke satu per satu botol yang berisi teh amat panas. Antrean lantas menjalar ke mesin berikut yang memasangkan tutup botol. Dari sini jalur roda bergerak lagi menuju pengemasan akhir. Maka jadilah teh botol merek Joy Tea Green, yang siap dikirim ke jutaan konsumen di seluruh Indonesia serta mancanegara.


8. B29 [1930]

Menurun, tapi tak kehilangan pasar.
PASAR Pagi Jakarta, akhir 1930-an. Sekumpulan ibu-ibu yang sedang belanja di Toko Sewu Gunawan meriung bicara soal sabun. Sabun Cap Tangan, produk Unilever—ketika itu satu-satunya sabun cuci yang beredar di pasar—mendadak langka. Jikapun ada, harganya mahal. Para ibu mengeluh: mereka tak bisa mencuci baju, piring, bahkan mandi.


9. Dji Sam Soe [1913]

RUMAH kuno itu tak lagi berpenghuni. Pagarnya tertutup seng. Ketika didatangi Tempo tiga pekan lalu, tampak empat petugas bergantian menjaga rumah. Di rumah inilah Liem Seeng Tee, pendiri HM Sampoerna, mengawali sejarah pada 1927.
Beralamat di Jalan Ngaglik, Surabaya, rumah ini—selain menjadi tempat tinggal—dulunya berfungsi sebagai gudang tembakau dan pabrik rokok. Selama lima tahun Seeng Tee menguji berbagai campuran rempah dan cengkeh di rumah ini. Dji Sam Soe salah satu produknya. Dari rumah ini pula Dji Sam Soe mulai diproduksi secara masif.


10. Kopi Warung Tinggi [1878]

Beberapa kali berhenti berproduksi, tetap hidup berkat kepercayaan pelanggan. Dulu resep lisan, kini tersimpan di komputer.
BATAVIA, 1878. Restoran di tepian Moolen Vliet Oost—kini Jalan Hayam Wuruk— Jakarta, itu berbeda dengan bangunan lain di sekitarnya. Tampak lebih bagus, lebih besar, dan tinggi. Masyarakat di tepian Ciliwung lalu menyebutnya Waroeng Tinggi. Adalah Liaw Tek Soen, perantau asal Tiongkok, yang membangun warung itu bersama istrinya.


11. Kecap Bango [1928]

Kemasan diremajakan, rasa dipertahankan, penetrasi pasar diperkuat. Jurus inovatif memperpanjang umur.
BANGO itu terbang tinggi. Dari jago lokal, dia menjadi bintang di tingkat nasional. Bermula dari pojok kampung di daerah Benteng, Tangerang, pada 1928, kini sang Bango mudah dijumpai di toko kelontong di hampir seluruh penjuru Indonesia. Delapan puluh satu tahun silam, suami-istri Tjoa Pit Boen (Yunus Kartadinata) dan Tjoa Eng Nio mengawali cikal bakal Kecap Bango di rumah mereka di Benteng. Sayang, jejak awal sudah amat samar. Napak tilas Tempo di kawasan Benteng tak menemukan sarang pertama sang Bango.

12. BATA

BERJAM-jam sepatu berbahan kanvas itu mengendap di ember penuh air. Basah kuyup, tapi tetap baik kondisinya. Wilfried Tampubolon, pemilik sepatu itu, cuma bisa memandanginya dengan kecewa. Pupus harapannya untuk mendapat sepatu baru. ”Dua tahun sepatu saya tidak diganti, makanya sepatu itu sengaja saya rendam,” kata Wilfried tertawa mengenang kenakalannya semasa kanak-kanak. Ibunya hanya mau membelikan sepatu baru kalau sepatu lama sudah rusak.

13. Batik Oey Soe Tjoen (1925)

PEMBUATAN selembar batik Oey Soe Tjoen bak ritual panjang. Awalnya, Muayah, pekerja di situ, menggoreskan lilin pada motif daun. Ia lalu menyerahkan hasil kerjanya kepada sang bos, Widianti Widjaja, yang lalu memeriksanya dengan teliti. Bila dianggap oke, kain akan diambil alih pekerja lain. Ia meneruskan pekerjaan untuk motif lain.

Monday, January 23, 2012

Makna Filosofis Macam - Macam Hidangan Imlek

Perayaan Imlek atau atau tahun baru China tinggal sepekan lagi, dan biasanya warga Tionghoa sudah mempersiapkan diri menyambut hari bahagia tersebut. Tidak hanya persiapan batin tapi juga makanan khas Imlek tentunya.

Bagi masyarakat Cina, setiap tahun Imlek selalu identik dengan angpao, kue keranjang, dan beraneka ragam manisan. Tidak ketinggalan bandeng berukuran besar yang akan diolah menjelang pergantian tahun.

Ternyata hidangan yang disajikan pada perayaan Imlek biasanya berjumlah minimal 12 masakan dan 12 macam kue. 12 macam makanan ini melambangkan shio. Diantaranya yang mewakili lambang- lambang tersebut adalah:

Mie melambangkan panjang umur dan kemakmuran

Kue lapis legit yang melambangkan rezeki yang berlapis- lapis

Kue mangkok, kue maho, dan kue keranjang. Biasanya kue keranjang disusun diatas kue maho dan kue mangkok yang diberi warna merah diatasnya. Harapan yang terkandung adalah agar memiliki kehidupan yang manis dan kian menanjak seperti kue mangkok.

Manisan kolang kaling dimaksudkan agar selalu memiliki pikiran yang jernih

Agar- agar bentuk bintang merupakan simbol kehidupan yang terang

Camilan umumnya, seperti kwaci, kacang dan permen.

Asinan dari biji semangka atau labu kuning ini sering menemani saat-saat berbincang di tengah keluarga ketika merayakan Imlek. Arti dari sajian biji-bijian ini adalah memiliki keturunan yang banyak.
Ayam atau bebek yang utuh (semua dengan segala bagian dari darah dan lain-lain ada) sebagai simbol untuk udara.
Ikan sebagai simbol dari air - Ini bisa ikan emas ikan bandeng atau ikan salmon (ikan pai tu di daerah singapore) semacam ikan yang bulat dan yang dapat hidup dilaut dan disungai.

Kepala babi sebagai simbol dari tanah.

Jeruk mandarin besar menggambarkan kekayaan, sedangkan jeruk jenis kecil menggambarkan  keberuntungan karena kedua jenis jeruk ini adalah buah yang berlimpah-limpah di Cina.


Mie yang panjang, tidak mudah putus menggambarkan panjang umur. Dalam setiap perayaan, mie selalu hadir sebagai wujud harapan untuk diberi umur yang panjang. Kabarnya, saat makan mie ini tidak boleh dipotong melainkan disantap sampai ujung terakhir!

Lobak disebut cai tou yang juga berarti good luck. Saat perayaan Tahun Baru Cina, sajian lobak menjadi wujud harapan baru untuk beruntung di tahun yang akan dijalani.


Tahu tausi, puding tahu, dan banyak lagi kuliner Cina yang menggunakan tahu, namun tahu putih tidak disajikan dalam sajian Imlek karena warna putih berarti kematian atau kesialan. Ini yang perlu Anda ingat, jangan menghidangkan menu tahu saat perayaan Tahun Baru Cina.

Seluruh hidangan ini selanjutnya didoakan bersama-sama seluruh keluarga agar diberi berkah oleh para arwah leluhur yang akan menyantap hidangan yang disajikan.

Credit :
http://sibukforever.blogspot.com/2012/01/makna-makanan-khas-imlek.html
http://metrotvnews.com/read/news/2011/02/01/41306/Tujuh-Simbol-Makanan-Imlek/

Wednesday, January 18, 2012

Jallikattu, Permainan Matador Ala India Yang Tak Kalah Sadisnya

Jallikattu atau Manju Virattu adalah olahraga yang dimainkan untuk menjinakkan Sapi jantan di Tamil Nadu, India sebagai bagian dari perayaan Pongal biasanya pada hari kedua dan ketiga festival. Ini adalah salah satu olahraga kuno yang masih diadakan pada era modern.

Meskipun kedengarannya mirip dengan Festival sain fermin di Spanyol ,namun oleh raga ini sangat berbeda. Dalam Jallikattu, banteng tidak dibunuh dan 'matadors' tidak menggunakan senjata apapun. yang harus dilakukan Para peserta (pejuang)adalah menerkam banteng yang tengah berlari, mencoba untuk berpegang pada punuknya dan bergerak bersama dengan sang banteng tanpa jatuh atau terluka. Hal ini membutuhkan refleks cepat dan kaki yang lincah untuk menjinakkan sapi jantan yang umumnya liar dan bandel, sapi jantan ini akan selalu mencoba melarikan diri, mengibaskan dan menjatuhkan peserta dari punggungnya,dan kadang kala juga sempat menanduk peserta sampai mati !.

Cedera dan kematian sangat sering terjadi di even Jallikattu. Pada tahun 2004, setidaknya 5 orang dilaporkan tewas dan ratusan terluka dari berbagai desa. lebih dari 200 orang telah meninggal selama dua dekade terakhir. Anehnya, si sapi jantan jarang menjadi korban.

Tapi aktivis hak hewan melihat sapi jantan sebagai umpan dan olahraga ini hanya menampilkan kekejaman. Sapi jantan ,dalam even ini sering diolesi balsem di mata mereka, di testis nya juga kadang dijepit, semua usaha itu dilakukan agar sapi menjadi "GILA". Penduduk desa melemparkan diri mereka di atas hewan yang ketakutan dalam upaya untuk "menjinakkan" mereka dan mengklaim hadiah. Meskipun sapi banteng tidak dibunuh sebagai bagian dari olahraga, mereka sering berakhir di rumah potong hewan sebagai daging.
Sejarah Jallikattu dapat ditelusuri kembali ke Peradaban Lembah Indus, lebih dari 5000 tahun yang lalu, membuatnya menjadi salah satu tradisi tertua di dunia. Sebuah segel terawat ditemukan di Mohenjodaro di tahun 1930-an yang menggambarkan praktek umum pertempuran massal dengan banteng selama Peradaban Lembah Indus

Referensi sejarah menunjukkan bahwa 'jallikattu,' dikenal di zaman kuno sebagai "Yeru thazhuvuthal, 'sangat populer di kalangan prajurit selama periode klasik Tamil. 'Jallikattu,' Istilah berasal dari Tamil istilah 'Salli kaasu' (koin) dan 'kattu' (paket) terikat pada tanduk sapi jantan sebagai uang hadiah. Kemudian, pada masa kolonial, istilah ini berubah menjadi 'jallikattu.'
Photo: Babu / Reuters
Photo: Babu / Reuters
Photo: Babu / Reuters

credit : 1, 2, 3